Penularan HIV/AIDS di Kabupaten Kotim Didominasi Usia Produktif

Sampit – Penularan penyakit mematikan HIV/AIDS di Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, didominasi kalangan usia produktif sehingga mengancam masa depan generasi penerus, diduga dampak maraknya pergaulan bebas.

“Penderita hampir pada semua kelompok umur, bahkan bayi pun ada yang terjangkit HIV. Istri dan anak terjangkit virus HIV dari suami atau kepala keluarga yang lebih dulu terjangkit HIV. Pergaulan bebas, seperti seks bebas dan narkoba, sangat rawan menyebabkan penularan HIV,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kotawaringin Timur, Asyikin Arpan di Sampit, Senin.

Asyikin berbagi cerita dan pengetahuan kepada puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi saat seminar tentang bahaya HIV/AIDS yang diselenggarakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Kalimantan Tengah. Peserta sangat antusias karena mereka sadar betul bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit mematikan dan remaja seusia mereka sangat rentan terjangkit jika terjerumus pergaulan bebas.

Asyikin menyebutkan, sepanjang 2017 lalu terdapat 54 warga terjangkit HIV/AIDS. Sedangkan sejak Januari hingga Agustus 2018 ini tercatat sudah ada 36 kasus HIV, terdiri dari 20 laki-laki dan 16 perempuan.

Kondisi ini memprihatinkan karena 90 persen penderita HIV/AIDS merupakan warga berusia produktif, yaitu 15 hingga 49 tahun. Kasus penularan HIV tertinggi di Kotawaringin Timur akibat hubungan seks yang berisiko.

Kotawaringin Timur merupakan daerah terbuka dan mudah diakses, bahkan hingga ke desa, sehingga bisa saja memicu tingginya penularan HIV. Hal ini harus menjadi perhatian bersama agar penularan HIV/AIDS tidak terus bertambah parah.

Penutupan seluruh lokalisasi di Kotawaringin Timur pada awal Desember 2017 lalu, setidaknya bisa mengurangi prilaku negatif. Di sisi lain, kini memang sulit mendeteksi keberadaan penghuni lokalisasi yang terjangkit HIV/AIDS karena ada yang pulang ke kampung halaman dan ada pula yang pindah ke tempat lain.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini menyasar kalangan mahasiswa. Usia produktif harus tahu tentang HIV sehingga bisa menghindarinya dengan cara pola hidup sehat. Mahasiswa dibentengi agar tidak terjangkit HIV/AIDS,” harap Asyikin.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kotawaringin Timur, Utari Sri Ambarwati mengajak generasi muda memahami bahaya HIV/AIDS dan cara mencegahnya.

“Pemerintah juga mendorong agar remaja peduli untuk menyelamatkan teman sebaya mereka. Jauhi virusnya, bukan orangnya. Penderita HIV/AIDS tidak boleh didiskriminasi. Makanya kita harus paham bahwa HIV itu tidak akan menular begitu saja meski kita bersentuhan dengan penderita,” kata Utari.

Utari mengajak semua pihak peduli membantu penanggulangan HIV/AIDS. Jika tidak ditangani serius maka daerah dan bangsa ini terancam akan kehilangan satu generasi.

Generasi muda harus didorong banyak berkegiatan positif seperti keagamaan, organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna dan lainya sehingga waktunya hanya untuk kegiatan positif.

Sementara itu, ibu hamil wajib menjalani tes HIV. Jika ada yang terjangkit, maka perlu penanganan khusus saat persalinan agar bayinya tidak tertular HIV, serta perlakuan setelah lahir, seperti tidak memberikan air susu ibu karena rentan menjadi media penularan. (Ant)